Selasa, 03 Mei 2011

Overdrive, Chapter 1 : Psychic

Well, my blog lovers!*apalah* Aku lagi nyoba nulis cerita baru nih. Buat ngisi waktu luang. Udah deh langsung aja. Enjoy it!



Overdrive, Chapter 1 : Psychic




Seorang pria setengah baya berambut pirang dengan setelan abu – abu dan dasi yang sewarna berjalan di koridor. Orang – orang berjas laboratorium lalu lalang. Pria itu berjalan sambil bercakap – cakap dengan pria seumuran berambut perak yang ada di sebelahnya, mereka tampak berwibawa. Dua orang berseragam militer mengawal mereka. Pada seragam militer prajurit tersebut terdapat badge berlambang  : globe, mahkota daun dafnah, dan pedang bersilang. Di bagian bawahnya terdapat singkatan : GDA, Global Defense Army. Di bagian dada prajurit tersebut terdapat tulisan : Special Secret Force.


“Nah, saudara – saudara, lift ini akan mengantar kita ke tujuan.” kata pria berambut pirang tersebut sambil memencet tombol lift. Mereka masuk ke dalam lift, lalu pria itu memencet tombol untuk menutup pintu lift.
“Verifikasi identitas anda,” sebuah suara muncul dari speaker dekat pintu lift. Di bawah speaker tersebut terdapat number pad dari logam. “Weasel Marksman, 0089,” pria berambut pirang itu menjawab sambil memasukkan kode-nya pada number pad. “Terima kasih, Mr. Weasel,” balas suara dari speaker. Lift mulai turun ke bawah.



“Jadi, Mr. Sherman, kami baru saja menemukan subyek yang mungkin cocok untuk proyek pasukan khusus anda. Dan subyek tersebut menjadi penguji prototipe alat terbaru kami, Projector,” jelas Mr. Weasel.
“Bagaimana cara kerja alat tersebut?” tanya Mr. Sherman.
“Alat tersebut hanya dapat digunakan oleh orang – orang seperti subyek kami, psychic.”
 “Psychic? Hahaha, subyek kalian seorang cenayang? Kalian pasti bercanda,” Mr. Sherman merasa geli dengan kata psychic itu.
“Psychic yang kami maksud adalah orang – orang yang mempunyai kemampuan khusus, di atas manusia biasa,” Mr. Weasel menjawab dengan serius. Sinar lampu lift memantul di
kornea mata-nya.



“Psychic Research Center terus berkembang sejak pertama kali dibangun 10 tahun yang
lalu, sejak peristiwa itu,” Mr. Weasel menjelaskan.
“Peristiwaitu?” Mr. Sherman bingung.
“Mr. Sherman, seorang kepala divisi pasukan khusus militer tidak mengetahui apa yang
terjadi 10 tahun yang lalu? Atau kau hanya lupa?”
“10 tahun yang lalu…badai kosmik? Aku bukan seorang ilmuwan yang selalu ingin tahu. Aku hanya seorang kepala divisi militer. Apakah subyek kalian ada hubunganya dengan badai kosmik 10 tahun yang lalu?” katanya sambil menyilangkan tangan di dada.
“Badai kosmik yang menerpa belahan bumi selatan yang perisai medan magnet bumi-nya lemah telah meradiasi semua makhluk hidup yang ada. Sebagian besar musnah.” Mr. Weasel menghela napas.
“Tidakkah itu terlalu berlebihan, Mr. Weasel?” Mr. Sherman sedikit bergidik.
“Tidak. Tumbuhan dan hewan musnah. Bahkan populasi manusia yang tersisa di belahan bumi selatan hanya tinggal 2%. Dan sampai saat ini, daerah tersebut masih beradiasi tinggi.”
“Mengerikan. Tetapi, tentu saja masih ada survivor setelah bencana itu kan?”
“Tentu saja ada. Masih dilakukan penyisiran di daerah bencana. Tak disangka, bencana ini membawa keajaiban.” Sedikit senyum tersungging di wajahnya.
“Keajaiban macam apa? Psychic?”
“Ya, ras manusia baru. Badai kosmik seolah ‘mengangkat’ mereka menjadi sesuatu yang lebih tinggi. Dan mereka kami karantina…”
Lift berhenti, pintunya terbuka.
“Di sini…” Mr. Weasel berkata dengan tersenyum.
Mr. Sherman takjub dengan apa yang dilihatnya. Mereka mulai berjalan meninggalkan
lift. Berjalan di koridor kaca yang dikelilingi pemandangan yang berbeda, futuristik. Mesin – mesin elektronik bercahaya dan berdengung di suatu ruangan luas di luar koridor kaca tersebut.
Mereka berjalan lurus menuju sebuah pintu otomatis. Dua orang penjaga memakai armor dan helm canggih berdiri di samping pintu tersebut.



“Ingat armor ini, Mr. Sherman?” kata Mr. Weasel sambil memukul pelan armor salah satu penjaga.
“Ya, neuron-integrated-cybernetic assault armor. Tak kusangka armor rancangan divisi-ku dipakai di sini. Apakah ini masih prototipe?”
“Tidak. Sudah kami kembangkan sesuai kebutuhan kami,” katanya sambil memasukkan kartu identitas dan menekan tombol – tombol di samping pintu.
“Untuk menjaga para subyek?”
“Tentu saja. Apalagi?” Pintu otomatis terbuka. “Mari masuk, Mr. Sherman,” Mr. Weasel mempersilahkan.
“Sampai nanti, anak – anak.” kata Mr. Sherman sambil menepuk pundak salah satu penjaga.
“Kita kembali menggunakan lift ya?” tanya-nya pada Mr. Weasel sambil berjalan masuk.
“Ya, akses tercepat menuju Quarantine.”
Lift bergerak horizontal dengan cepat menuju Quarantine, tempat para subyek dikarantina.
Sementara itu di Quarantine sektor N-17 kamar 03, seorang pemuda berumur 17 tahun sedang duduk termenung di lantai.
“Tidak, ini mengerikan…” gumamnya. Kepalanya tertunduk menatap lantai. Sekilas ingatan tentang bencana itu mengusiknya. Kilatan cahaya merah terang di langit.
“Jane, berlindung! Cepat!” Pemuda itu semakin memejamkan matanya. Sinar – sinar kosmik seperti asap merah bercahaya turun dari langit. Itu yang terlintas di pikirannya.
“Ah! Sial! Ingatan itu lagi…” katanya sambil mengejapkan mata, tangannya mencengkeram erat rambut pirangnya yang bermodel spike. Dia memakai seragam berwarna biru muda dengan tulisan nama di dada : Nick Parker. Di bawahnya terdapat tulisan : Psychic Subject 03. Sebuah gelang perak polos terpasang di pergelangan tangannya, di tengah gelang tersebut terdapat lubang kecil bercahaya biru, di dalamnya terdapat rangkaian elektronik yang rumit.
“Gelang sial ini, membuatku frustasi dengan mengingat peristiwa itu.” katanya sendu. Mata biru-nya menatap gelang perak itu. Lalu memutar pergelangan tangannya untuk melihat gelang tersebut. Ia bangkit berdiri lalu berjalan ke arah pintu kamar besinya yang sempit.



“Hey! Lepaskan gelang sialan ini dariku!!!” Tiba – tiba Nick memukul – mukulkan gelang perak itu ke pintu.
“Nick Parker! Diam dan tenanglah! Tamu penting akan segera datang!” kata penjaga dari luar kamar. Mata elektronik bercahaya biru dari helm penjaga itu menatap Nick
dari kaca pintu.
“Apa pedulimu!! Kalian hanya menganggap kami seperti tikus percobaan yang bisa kalian mainkan setiap hari!!!” teriaknya.



Mr. Weasel dan Mr. Sherman sudah sampai di Quarantine sektor N-17 dan mereka
bingung akan keributan yang terjadi di kamar 03. Mereka dengan bergegas berjalan di koridor.

“Apa yang terjadi pada subyek 03?” tanya Mr. Weasel kepada penjaga.
“Mr. Weasel, subyek menjadi frustasi karena efek Projector.”
“Memory shock. Coba kau tenangkan dia,” perintah Mr. Weasel.
Penjaga memencet kode pembuka pintu dan masuk. Dia mengambil sebuah tongkat mesin berwarna hitam dari pinggangnya, pintu tertutup kembali. Lalu ditekannya tombol biru di tongkat, kilatan dan desis listrik muncul di ujungnya. Nick berdiri sekitar 2 meter di depan penjaga.
“Ini akan menenangkanmu, Nick.” Penjaga mulai mendekat.
“Itu. Tidak. Akan. Membuatku. Tenang.” Mata Nick menatap tajam.
Tiba – tiba rangka kasur Nick terpecah dan melayang di belakangnya, menimbulkan suara besi terpotong yang keras.
“Jangan coba melawan, Nick.” Penjaga bersiap dengan electric shocker-nya.
“Aku tidak melawan, aku hanya…menahan.” Suara besi berdentangan. Salah satu potongan besi itu dengan cepat melayang menuju leher penjaga. Dengan sigap, penjaga itu menahannya, electric shockernya terjatuh. “Ugh. Jangan mencoba.” Penjaga mencoba melontarkan besi itu.
“Rasakan ini.” Urat nadi di pelipis Nick menegang. Perlahan – lahan ujung besi itu
membengkok dan akhirnya mengunci tangan penjaga.
“Gah! Sial kau!”
Dengan kekuatan pikirannya, Nick melontarkan penjaga itu ke tembok. “Agh!” teriak penjaga.
Pelat – pelat dan potongan besi menancap di tembok dan membengkok, mengunci penjaga di tempat. Nick berjalan ke electric shocker penjaga yang terjatuh. Ia memungutnya
lalu mengarahkannya ke leher penjaga yang tak berpelindung. “Selamat tidur.”




Mr. Weasel dan Mr. Sherman menunggu di luar koridor sektor N-17. “Apakah kau yakin penjaga tadi mampu menanganinya?” tanya Mr. Sherman.
“Tentu saja. Dia dipersenjatai dengan electric shocker jika…”
Mr. Sherman memotong kalimat Mr. Weasel. “Aku mendengar suara pelat besi dibengkokkan.” Mr. Weasel terbelalak. “Dia mencoba kabur lagi! Penjaga! Subyek 03 mengamuk! Gunakan senjata khusus!” perintahnya pada penjaga di luar koridor. Penjaga itu mengambil sebuah pistol dari pinggangnya dan masuk ke koridor lewat pintu otomatis.
“Pistol? Apa kau gila? Kau bisa membunuh subyekmu sendiri!” kata Mr. Sherman.
“Itu adalah pistol khusus, Psi-gun tipe 2. Proyektilnya adalah gelombang kejut pikiran.”
“Gelombang kejut pikiran?” Mr. Sherman merasa asing dengan istilah tersebut.




“Angkat tangan, Nick Parker!” kata penjaga dalam posisi siaga, pistolnya terarah ke Nick yang sudah berdiri di koridor.
“Coba ini.” Nick mengarahkan telapak tangannya ke penjaga.Gelombang kejut dilontarkannya. Penjaga itu lalu menarik pelatuk pistolnya. Kedua gelombang kejut bertabrakan,
membuat koridor berdengung.
Penjaga memutar kenop di pistolnya, menaikkan level gelombang. Dia menembak lagi. Nick terlontar jauh lalu terjatuh di lantai. 
”Sial, aku lupa membuat perisai.”
Nick bangun dan mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah penjaga. “Blast.”
Saat itu juga penjaga menarik pelatuk pistolnya lagi. Proyektilnya bertabrakan dengan gelombang kejut yang lebih besar milik Nick. “Uagh!” Penjaga itu terpental hingga keluar koridor.
“Apa ini? Quarantine, sektor 17 siaga satu!” Mr. Weasel berteriak.
“Mr. Sherman, mari kita ke tempat yang lebih aman!”



Sementara mereka berdua mencari perlindungan, dua tim penjaga berpelindung datang mengamankan sektor 17 di mana Nick mengamuk.
“Mana lagi? Ha?” kata Nick sambil keluar dari koridor.
Di luar koridor para penjaga sudah mengarahkan senjata mereka ke arahnya.
“Subyek 03, kau kami amankan,” kata salah satu penjaga.
“Ooh, kalian semua sudah siap kuhabisi?” Nick menyeringai.


To be continued...